Bebas

bebas

Suasana malam kota tua ini cukup memilukan, begitu banyak kepedihan yang terlihat di sekitar. Wajah-wajah lelah dan jenuh terlihat jelas pada roman muka penduduk yang mendiami kota  ini. Kulangkahkan kakiku perlahan menyusuri trotoar, kupandangi satu persatu wajah orang yang kutemui, kurasakan kepedihan mereka terselip diantara senyum hambar yang mereka tampilkan.

“Mampir mas?”

Langkah kakiku terhenti, kupandangi wajah wanita muda dihadapanku, wajahnya biasa saja, namun terlihat ayu, sebab tertutup oleh polesan make up nya yang tebal. Bibirnya merah merona hingga terlihat seperti telah  meneguk habis satu liter darah.

“Kalau saya mampir, lantas dimana tempat yang nyaman agar aku bisa berbincang denganmu?”

“Hanya berbincang?”

“Iya, karena saat ini, hanya itu yang aku butuhkan,”

“Wah, mudah sekali itu. Mari ikuti saya,”

Dengan gemulai ditariknya tanganku, aku tak melawan, aku pasrah padanya, kuikuti saja kemana diriku dibawanya. Depresiku benar-benar mengalahkan akal sehat yang kupunya, dan ketika obat dokter tidak mampu menenangkanku, maka kupilih untuk mencari kesenangan meski itu hanya  semu. Toh nyatanya, tempat tujuan yang aku pilih juga sama kelamnya dengan rasa sakit yang saat ini kembali muncul.

“Mari masuk,”

Kami berdua memasuki sebuah café yang terlihat suram, diatas sebuah panggung kecil, terlihat kakek tua, memainkan gitarnya yang terlihat usang, sembari menyanyikan sebuah lagu yang aku sendiri tak mengenal itu lagu apa. Dengan sedikit genit, Wanita itu mengajakku duduk di sudut café, mestinya tak perlu kami memilih tempat yang tersembunyi, toh pengunjung café ini hanya ada kami berdua saja.

“Kita sudah bersembunyi disini, kamu suka? Sepi bukan? Kamu bisa bebas bercerita padaku,”

Dengan sinis, kupandangi wajah wanita itu, tubuhnya tak seksi, namun ideal, gaun ketat berwarna merah merona yang dikenakannya, membuat lekuk tubuhnya semakin terlihat.Namun, aku tak ingin berbuat aneh-aneh, aku hanya ingin berbincang saja. Kupejamkan kedua mataku, kuhirup nafas dalam-dalam, perlahan kuingat kejadian sore tadi, takkala Asri istriku berteriak padaku dengan suaranya yang lantang, sembari mengatakan aku gila, kalimat itu membuatku benar-benar sakit hati.

“Saya tidak gila! Saya hanya butuh didengarkan saja, dan dia tidak mau mendengarkanku, aku membencinya, aku sakit hati pada perlakuannya, dia paham kondisiku, tapi dia perlakukanku seperti sampah!” Kugebrak meja di depanku dengan penuh rasa marah. Luar biasanya, Wanita yang tak kukenal itu tetap duduk tenang di hadapanku, sembari menatap lembut padaku.

“Kau tahu, penyakit ini muncul karena dia juga! Semua perlakuannya membuatku muak!”

“Tapi kau mencintainya?”

“Dulu iya, sekarang tidak. Persetan dengan cinta! Kebencianku lebih besar, dia berhasil membuat lubang raksasa di sini!” kuarahkan tanganku di dada, Wanita itu hanya menatap sekilas, dan perlahan dia tersenyum tipis.

Aneh, tiba-tiba aku merasa mengenal wanita itu, senyum tipisnya membuatku teringat seseorang, dan anehnya sekujur tubuhku bergetar hebat seolah tersengat listrik. Lamat-lamat kutamatkan wajah wanita itu, dan begitu aku menyadari siapa dia, emosikupun memuncak.

“Kau! Berhenti menghantuiku, aku sudah berlari jauh,  kau sudah kutinggalkan!” Teriakku histeris sembari telunjuk tanganku menunjuk ke arahnya. Ketegangan itu muncul kembali, bahkan pelarianku hingga ke kota tua ini pun masih dibayangi oleh wanita jahanam itu.

“Aku bukan dia,”

“Kau dia!”

“Bukan,”

“Iya, kau dia!”

Dengan penuh emosi akupun berdiri, aku tak bisa terus menerus dibodohi olehnya, harga diriku sebagai lelaki dikalahkan oleh egonya, sakitnya diriku pun disebabkan olehnya. Aku harus bebas darinya, bukan hidup dalam bayang-bayangnya.

“Duduklah, mari kita bicara,”

“Tidak, aku sudah tidak mau bicara padamu!” aku histeris, kupegang kepalaku,  sembari kugeleng-gelengkan, kuberharap ini hanya mimpi.

“Dengarkan aku,” kurasakan jemari tangan wanita itu berusaha meraih tanganku, dengan kasar kutepis tangan itu, tanpa peduli padanya, aku bangkit dari tempatku duduk, dengan kesal, marah, takut, bingung aku berlari keluar dari café itu, anehnya, wanita itu sama sekali tak beranjak dari tempatnya duduk, ekspresinya datar,terlihat dia tak peduli padaku. Baru beberapa menit bersamanya aku telah kabur dan pergi meninggalkannya.

Langkah kakiku gontai,ketika telah berada jauh dari café tersebut, setidaknya  aku lega, telah behasil kabur darinya. Kembali kususuri jalan kelam kota tua ini, kali ini kususuri dengan penuh kebebasan, tak ada lagi yang mengganggu dan menjadi beban bagi diriku. Aku bebas! Bebas sebebas bebasnya.

***

Pagi itu, sebuah koran local memuat  berita kematian seorang pria yang diduga depresi, lelaki itu meninggal bunuh diri dengan meminum obat  hingga overdosis, anehnya lelaki itu meninggal dengan ekspresi wajah tersenyum lebar, seolah dia bahagia dengan kematiannya sendiri.